Tuesday, March 8, 2011

QUARTER LIFE

If we have 100 years to live just like “Five For Fighting” song, so I can say that I’m in my Quarter Life. Bagaimana rasanya? Ya beginilah, seperti diantara batas kedewasaan dan kekanak-kanakan. Di satu sisi masih berasa seperti ABG yang maunya main melulu tapi disisi lain, sudah punya tanggung jawab pekerjaa dan juga masalah orang dewasa. Belum lagi tuntutan memiliki pasangan dan segera menikah. Aduh! Please deh. Sementara pikiran bergelut dengan urusan tadi, masih ditambah dengan urusan financial, kayaknya umur segini tuh lagi banyak pikiran banget deh. 
Untuk urusan percintaan, kayaknya ini yang paling sensitif dibanding yang lain. Masalahnya sampe sekarang umur sudah seperempat abad, masih juga berkisar dia angka 4, alias 4 kali pacaran. Ups, salah ya. Hehehe… untuk yang satu ini rasanya pengen banget terselesaikan dengan cepat. Dulu saya pernah bilang bahwa tidak mau menikah buru-buru dan ingin nantinya pernikahan hanya sekali seumur hidup (crossfinger). Tapi nyatanya banyak harapan seperti itu berakhir dengan perceraian atau perselisihan juga, well itu sih subjektif ya. Tergantung bagaimana individu itu sendiri, masalahnya semua orang terdekat punya problem rumah tangga yang hamper sama, mulai dari WIL, financial sampai masalah prinsip. Susah sih kalau ngomongin yang kayak begini. It’s still out of my mind. Tapi saya tetap optimis dan berpikir kembali bahwa jodoh itu sudah diatur Tuhan dimana manusia sudah diciptakan berpasang-pasangan.  Menurut orang tua, di setiap pernikahan pasti selalu ada kerikil tajam alias masalah2 baik kecil maupun besar yang akan menghampiri. Bagaiamanapun, di dunia ini tidak ada masalah yang tidak bias diselesaikan. Begitu katanya!
Kembali lagi ke urusan seperempat abad ini,  apa yang mau kamu lakukan di 25 tahun ke depan? Yah, mudah-mudahan memang masih ada waktu untuk saya hidup selama itu, tapi harus selalu optimis kan?! Saya ingin menyenangkan orang lain, baik itu keluarga, teman, pasangan maupun orang asing yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Selama ini saya sudah cukup egois, cukup pelit, cukup tidak memikirkan orang lain, tidak berempati ataupun berpikir positif di segala hal. Susah sekali untuk sayamerubah diri menjadi lebih baik dari hari ke hari, walau sudah berdoa dan berusaha. Setiap saya berdoa, saya selalu minta untuk dijadikan sebagai individu yang lebih baik, yang bisa menyenangkan orang lain, mengerjakan sesuatu yang membawa berkah bagi keluarga dan orang-orang di sekitar saya. Sulit nya bukan main, ya Tuhan. Apa yang salah dari hidup saya? Apa yang membuat saya tidak berpikiran positif? Apa yang bisa saya lakukan untuk merubah energy negative serta pikiran egois ini? Jangan sampai saya dikasih musibah yang berat baru saya bisa berubah seperti kasus-kasus yang lain. Amit-amit. Saya tidak pernah berpikir untuk terkena musibah berat, harus kehilangan sesuatu dulu baru sadar dan berubah. Saya ingin perubahan itu datang dengan sendirinya, dari pikiran saya, dari hati dan tindakan saya.
Jadi sekarang, saatnya untuk berubah dan kembali menjadi orang yang berpikiran positif. Jangan pernah berpikiran egois dan ikhlas menolong orang lain. Mudah-mudahan segala urusan bisa lancar setelah perubahan itu terjadi. Baik urusan individu, pekerjaan, keluarga, pertemanan dan percintaan. Amin!
Semua manusia pasti punya sisi buruk dan baik, tinggal bagaimana mereka mengelolanya saja, siapa yang lebih bisa memahami salah satu sisi tesebut, disitu tercermin karakter manusia itu sendiri. Saya gak berharap menjadi manusia yang buruk, tapi juga tidak bisa selalu baik. Apapun itu, yang penting bisa menempatkan diri saja, sudah cukup untuk memulai kehidupan di masa seperempat abad ini. Jika saya bisa mendapatkan 25 tahun lagi, pasti saya berharap bisa lebih baik dari masa sekarang. Hanya masalah waktu dan kemauan yang disertai usaha, mungkin hanya saya dan Tuhan yang tahu. Bukan bermaksud sok bijaksana tapi memberi pembekalan pada diri sendiri saja, mudah-mudahan bisa dibuktikan dengan kenyataan. Manusia itu makhluk ajaib yang bisa berubah-ubah, maka jangan pernah percaya pada manusia yang lain. Prinsip yang dipegang oleh diri masing-masing harus dihormati, seperti saya, tidak pernah mau percaya 100% pada siapa pun, saya hanya percaya Tuhan akan selalu berada di sisi saya dan saya akan terus berusaha mempercayai apa yang saya yakini.

No comments:

Post a Comment